Kobarnews.id, PANDEGLANG – Miris benar nasib keluarga Asmah dan Kartoni di Kampung Pabuaran, Kelurahan Babakan Kalanganyar, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Selama lima tahun, pasangan suami istri itu bersama kelima anaknya terpaksa bertahan di sebuah gubuk reyot berukuran sekitar 3 x 4 meter.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru membuat mereka terus dihantui rasa cemas. Bangunannya sudah miring dan hanya ditopang sejumlah batang bambu agar tidak roboh.
Atap rumah juga bocor di berbagai sisi. Saat hujan deras disertai angin kencang menerjang, keluarga ini hanya bisa waswas.
“Takut kehujanan, rumah pada bocor,” ujar Asmah kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).
Meski kondisi rumah kian mengkhawatirkan, Asmah mengaku tetap memilih bertahan. Ia tak ingin merepotkan orang lain dengan mengungsi.
Di dalam rumah sempit itu, Asmah, Kartoni dan kelima anak mereka tidur serta menjalani aktivitas sehari-hari bersama. Tak ada sekat kamar maupun fasilitas sanitasi yang memadai.
Kondisi bagian dalam rumah pun tak kalah memprihatinkan. Pakaian dan berbagai perabot ditumpuk seadanya karena mereka tak memiliki lemari yang layak.
Tiga Kali Ajukan Bantuan, Tak Kunjung Ada Perbaikan
Asmah mengatakan keluarganya bukan tidak berusaha. Mereka bahkan sudah tiga kali mengajukan bantuan perbaikan rumah kepada pihak berwenang.
Namun, hingga kini, rumah tersebut belum juga mendapat perbaikan.
“Sudah mengajukan tiga kali, foto-foto doang paling, minta KK sama KTP,” keluh Asmah.
Bantuan yang pernah diterima keluarga tersebut pun hanya berupa beras. Sementara bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) belum pernah mereka rasakan.
Kondisi ekonomi keluarga semakin berat karena penghasilan Kartoni sebagai buruh tani harian lepas tak menentu.
Ia bekerja di kebun milik warga sekitar dengan upah hanya sekitar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per hari.
Uang tersebut nyaris seluruhnya habis untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.
“Ya kerja di kebun, uangnya habis saja buat beli beras, jajan anak,” kata Kartoni.
Dengan penghasilan pas-pasan, memperbaiki rumah secara mandiri tentu bukan perkara mudah.
Air Bersih Pun Sulit
Penderitaan keluarga ini bukan hanya soal tempat tinggal. Untuk mendapatkan air bersih saja, mereka masih harus bergantung kepada sumur milik warga.
Air yang digunakan pun terkadang keruh, terutama ketika musim kemarau.
Di tengah segala keterbatasan tersebut, Asmah dan Kartoni hanya berharap ada perhatian dari pemerintah.
Mereka ingin memiliki rumah sederhana yang aman dan layak bagi kelima anaknya.
Harapannya tak muluk-muluk. Mereka hanya ingin bisa tidur dengan tenang tanpa terus dibayangi kekhawatiran rumah roboh setiap kali hujan dan angin kencang datang. (Riyan)




