Kobarnews.id, SERANG – Senja turun perlahan di Kampung Pariuk Nangkub, Desa Cinangka, Kabupaten Serang, Sabtu (15/8/2026). Di tengah hamparan tenda peserta Kemah Bakti Bela Negara (Kembara) PKS Banten Barat, puluhan durian dibelah dan dinikmati bersama.
Aroma khas durian seketika memenuhi udara. Tawa dan obrolan pun pecah. Peserta, panitia, hingga pemateri duduk melingkar, saling menyodorkan durian dan berbagi cerita. Tradisi murak kadu itu sontak menjadi salah satu momen paling hangat dalam rangkaian Kembara.
Sekitar 200 peserta dari Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang mengikuti Kembara selama tiga hari, 14-16 Agustus 2026. Selain pembinaan kepemimpinan dan wawasan kebangsaan, agenda diisi hiking, outbound, diskusi, hingga permainan kolaboratif.
Namun, di antara sederet kegiatan tersebut, murak kadu justru menghadirkan suasana paling cair. Tak ada sekat antara peserta dan pemateri. Semua membaur dalam satu lingkaran.
Sanuji Pentamarta, salah satu pemateri kepemimpinan, mengatakan murak kadu bukan sekadar tradisi menikmati buah musiman. Menurut dia, ada pesan kepemimpinan dan kebersamaan yang bisa dipetik dari kegiatan sederhana tersebut.
“Kepemimpinan itu bukan hanya soal bagaimana kita menyampaikan gagasan, tetapi juga bagaimana kita membangun kebersamaan. Murak kadu menjadi contoh sederhana bahwa kebersamaan, gotong royong, dan berbagi dapat memperkuat hubungan antarsesama.” ujarnya.
Sanuji menilai kebersamaan yang lahir dari aktivitas sederhana justru kerap menjadi fondasi kuat dalam membangun organisasi.
Karena itu, dia mengajak peserta menikmati setiap momen selama Kembara sebagai bagian dari proses memperkuat diri sekaligus persaudaraan.
“Mari kita nikmati kebersamaan kita dalam Kembara ini sebagai ajang penguatan dan kebersamaan.” katanya.
Dia juga berharap murak kadu tak berhenti sebagai agenda makan bersama. Tradisi tersebut, kata dia, dapat menjadi simbol persaudaraan yang dibawa peserta setelah kembali ke daerah masing-masing.
“Mari kita jadikan murak kadu bukan sekadar kegiatan makan bersama, tetapi momentum untuk mempererat silaturahmi, membangun solidaritas, dan merawat semangat kebersamaan.” tegas Sanuji.
Bagi Gugun, peserta asal Kabupaten Lebak, murak kadu merupakan salah satu momen yang paling ditunggu setiap mengikuti kegiatan perkemahan.
“Kegiatan berkemah ini luar biasa, mulai dari pembinaan fisik sampai ruhiyah, apalagi momen kebersamaan dalam murak kadunya. Rasanya sederhana, tetapi justru di situ kita merasa benar-benar dekat satu sama lain.” ungkapnya.
Selama tiga hari, peserta tinggal di alam terbuka, mendirikan tenda, memasak secara mandiri, serta mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan semangat gotong royong.
Materi wawasan kebangsaan dari unsur TNI, hiking, outbound, serta permainan kolaboratif turut melengkapi pengalaman para peserta.
Tetapi ketika durian kembali dibelah di penghujung hari, Kembara seolah menemukan makna yang lebih sederhana dan manusiawi: berbagi.
Di balik kulit durian yang keras, ada pelajaran tentang saling mendekat, menyodorkan bagian terbaik, dan menikmati sesuatu secara bersama-sama.
Murak kadu pun bukan lagi sekadar soal durian. Ia menjadi simbol bagaimana persaudaraan dibangun—tanpa sekat, tanpa jarak, dan tanpa perlu forum resmi.
Di tengah alam terbuka Kampung Pariuk Nangkub, tawa dan obrolan para peserta menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi tak selalu lahir dari pidato panjang atau rapat berjam-jam.
Kadang, persaudaraan tumbuh dari satu durian yang dibelah bersama, tangan yang saling berbagi, dan tawa yang mengalir apa adanya.
Sederhana, tetapi justru di situlah kebersamaan menemukan maknanya. (Dian)




