Kobarnews.id, LEBAK – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Rangkasbitung mengalami kelebihan kapasitas atau over capacity hingga hampir 300 persen. Saat ini, jumlah warga binaan yang menghuni lapas tersebut mencapai 332 orang, sementara kapasitas idealnya hanya 100 orang.
Hal itu disampaikan Kasubsi Pembinaan Lapas Rangkasbitung, M. Ghifari Satya Zaki, kepada wartawan, Senin (24/8/2026).
Ghifari mengatakan, dari 332 warga binaan tersebut, terdapat tiga tahanan perempuan yang merupakan titipan dari Kejaksaan.
“Kapasitas yang seharusnya hanya diisi 100 warga binaan. Per hari ini ada 332 warga binaan. Jadi kondisi Lapas Rangkasbitung mengalami over capacity hampir 300 persen,” kata Ghifari.

Kasubsi Pembinaan Lapas Rangkasbitung, M. Ghifari Satya Zaki.
Menurut dia, kasus tindak pidana umum seperti pencurian dan penadahan masih menjadi perkara yang banyak menjerat warga binaan di Lapas Rangkasbitung. Namun, jumlah warga binaan dengan kasus narkotika juga tergolong tinggi.
“Kasusnya beragam, tetapi narkotika juga di angka yang tinggi,” ujarnya.
Raja Muhammad Zulfikar Hirwansyah Jadi Kalapas Baru
Sementara itu, Lapas Rangkasbitung juga memiliki pimpinan baru. Jabatan Kalapas Rangkasbitung kini diemban Raja Muhammad Zulfikar Hirwansyah.
Raja menggantikan Muarif Hakim yang melanjutkan tugas sebagai Kepala Rutan Pasangkayu. Sebelumnya, Raja menjabat sebagai Kepala Subbag TU pada Direktorat Pengamanan dan Intelijen Dirjenpas.
Serah terima jabatan secara resmi telah dilakukan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten di Serang pada Kamis (20/8). Sedangkan acara pisah sambut dan penyambutan Kalapas baru digelar di Lapas Rangkasbitung pada Senin pagi.
Warga Binaan Diberi Beragam Program Pembinaan
Ghifari menjelaskan, Lapas Rangkasbitung memiliki berbagai program pembinaan bagi warga binaan. Program tersebut terbagi menjadi pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.
Untuk pembinaan kepribadian, salah satunya berupa pembinaan kerohanian bagi warga binaan beragama Islam dan Kristen. Lapas bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Lebak untuk menghadirkan penyuluh agama secara berkala.
“Khusus agama Islam, kami bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Lebak. Setiap minggu ada penyuluh agama yang datang ke Lapas Rangkasbitung untuk memberikan pembinaan kerohanian,” jelasnya.
Pembinaan serupa juga diberikan kepada warga binaan beragama Kristen dengan menghadirkan penyuluh agama dari Kemenag.
Selain pembinaan keagamaan, Lapas Rangkasbitung menjalankan program pengentasan buta aksara. Warga binaan yang belum bisa membaca dan menulis didata kemudian mendapatkan pembelajaran secara bertahap.
Lapas juga menyediakan program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C bagi warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan tingkat SD, SMP, maupun SMA.
“Yang tidak lulus SD, SMP, maupun SMA kami data dan dimasukkan ke paket pendidikan sesuai dengan kondisi mereka,” katanya.
Sementara untuk pembinaan kemandirian, warga binaan dilatih mengolah kayu menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
“Setiap harinya warga binaan memproduksi sesuatu. Salah satunya melalui kegiatan perkayuan, mereka kami latih mengolah kayu menjadi produk yang bisa dimanfaatkan. Bahkan Pak Gubernur Banten kemarin dapat cendera mata gitar dari hasil binaan di lapas Rangkasbitung,” pungkasnya. (Red/Mat)




