Kobarnews.id, LEBAK – Ketekunan Nana Suryana alias Nana Rambo Teuweul dalam membudidayakan lebah teuweul atau klanceng lokal mulai membuahkan hasil. Warga Kampung Cipadang, Desa Cipadang, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, itu kini tak hanya dikenal sebagai peternak lebah, tetapi juga menjadi rujukan mahasiswa dan kalangan akademisi untuk melakukan penelitian.
Nana menekuni budidaya lebah teuweul sejak 2011. Berawal dari berkeliling kampung mencari koloni lokal, usaha tersebut perlahan berkembang hingga lokasi budidayanya ramai didatangi peternak, masyarakat, hingga peneliti.
“Saya memulai tahun 2011, dengan berkeliling di kampung, melihat potensi koloni Lebah Teuweul di kampung ini. Saya membeli koloni lebah yang bersarang di bambu, madunya saya ambil, sedangkan koloninya saya ternakkan,” ujar Nana saat ditemui wartawan Kobarnewsid, Rabu (19/8/2026).
Sejak 2015, Nana mulai mengembangkan koloni menggunakan kotak sarang. Dari hasil pengembangannya, ia telah menemukan sekitar delapan jenis koloni lokal di wilayah Cileles.
Tak hanya mengandalkan lebah lokal, Nana juga mengembangkan koloni dari sejumlah daerah lain, seperti Gunung Karang, Pandeglang, hingga Sumatera.
Jadi Lokasi Penelitian Mahasiswa IPB
Konsistensi Nana membuat tempat budidayanya di Kampung Cipadang menjadi lokasi yang menarik bagi kalangan akademisi. Sejumlah mahasiswa, khususnya dari Institut Pertanian Bogor (IPB), datang untuk melakukan penelitian.
Berbagai aspek diteliti, mulai dari aktivitas terbang atau foraging lebah, sumber tanaman pakan, hingga karakteristik madu dan produk lebah teuweul.
Aktivitas lebah keluar-masuk sarang untuk mencari polen, nektar, dan resin menjadi salah satu objek yang menarik perhatian peneliti. Vegetasi di sekitar lokasi juga turut dikaji lantaran ketersediaan tanaman pakan sangat menentukan keberlangsungan koloni dan produktivitas lebah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi lebah teuweul lokal di Lebak bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki nilai akademis dan ekologis.
Raih Penghargaan Nasional
Nana tak berhenti mengembangkan koloni. Berbagai pelatihan diikuti untuk meningkatkan kemampuan budidaya dan pengelolaan usaha. Ia juga melengkapi usaha dengan sejumlah persyaratan, termasuk perizinan, label halal, serta pengujian laboratorium demi menjaga kualitas produk.
Kerja keras itu berbuah penghargaan. Pada 2019, Nana menerima API Inspiration dari Asosiasi Perlebahan Indonesia sebagai penggerak budidaya kelulut atau lebah teuweul di Banten.
“Alhamdulillah, tahun 2019 saya mendapatkan penghargaan API Inspiration dari Asosiasi Perlebahan Indonesia sebagai penggerak budidaya Kelulut atau Lebah Teuweul di Banten,” kata Nana.
Saat ini, Nana mengembangkan sejumlah jenis lebah teuweul, termasuk jenis lokal dan Heterotrigona itama dari Gunung Karang, Pandeglang.
Selain memproduksi madu, Nana juga membangun saung-saung yang digunakan sebagai tempat belajar masyarakat. Warga yang tertarik beternak lebah dapat datang untuk melihat langsung proses budidaya.
Menurut Nana, beternak lebah memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar menghasilkan uang. Budidaya lebah juga mendorong masyarakat menjaga lingkungan karena lebah membutuhkan pohon dan tanaman berbunga sebagai sumber pakan.
“Saya ingin banyak masyarakat yang tergerak untuk beternak, karena lebah lokal harus terjaga habitat dan jumlahnya. Lingkungan sekitar juga menjadi lebih asri karena membutuhkan banyak pohon dan bunga agar lebah mudah mencari makanan. Dari sisi bisnis juga cukup lumayan hasilnya,” ujarnya.
Nana dikenal pula sebagai pencetus produk Rambo Madu Teuweul Cipta Sejahtera. Dari aktivitas tersebut, Kampung Cipadang kini menjadi salah satu lokasi yang menarik bagi masyarakat, peternak, maupun akademisi yang ingin mengenal lebah tanpa sengat (stingless bee).
Lebah teuweul (Trigona spp.) merupakan lebah tanpa sengat yang menghasilkan madu, propolis, dan bee pollen. Produk-produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan terus dikembangkan sebagai bagian dari potensi usaha perlebahan lokal.
Bagi Nana, menjaga lebah berarti ikut menjaga lingkungan. Semakin banyak masyarakat membudidayakan lebah lokal, semakin besar pula dorongan untuk mempertahankan pohon, tanaman berbunga, serta habitat yang menjadi sumber pakan lebah.
Kisah Nana menjadi bukti bahwa potensi lokal Lebak bisa dikembangkan menjadi usaha produktif sekaligus pusat edukasi dan upaya menjaga lingkungan. Dari sebuah aktivitas sederhana di kampung, budidaya lebah teuweul kini mampu mengundang perhatian akademisi hingga mengantarkan Nana meraih penghargaan di tingkat nasional. (Dian)




