Kobarnews.id, LEBAK – Sebanyak 4.923 balita di Kabupaten Lebak, Banten, tercatat mengalami stunting hingga Oktober 2026. DPRD Lebak meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) memperkuat penanganan dan pencegahan stunting agar target nol kasus dapat tercapai.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, jumlah tersebut setara dengan 4,91 persen dari total 100.302 balita yang telah diukur.
Kecamatan Bayah menjadi wilayah dengan jumlah balita stunting terbanyak, yakni 398 balita. Sementara itu, Kecamatan Cileles mencatat persentase stunting tertinggi sebesar 17,05 persen atau sebanyak 244 balita.
Sekretaris Dinkes Kabupaten Lebak Endang Komarudin membenarkan data tersebut. Dia mengatakan Pemkab Lebak terus melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting sekaligus mencegah munculnya kasus baru.
“Kalau jumlah paling banyak stunting di Kecamatan Bayah mencapai 398 balita. Tapi kalau melihat persentase paling tinggi di Kecamatan Cileles 17,05 persen atau 244 balita stunting,” kata Endang.
Menurut Endang, sejumlah program telah dijalankan untuk menangani persoalan tersebut. Di antaranya pemberian susu pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK) sesuai kebutuhan anak, pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal, serta distribusi tablet tambah darah bagi remaja putri.
Pemkab Lebak juga memperkuat pelayanan kesehatan bagi calon pengantin, pemeriksaan kehamilan, skrining kesehatan ibu hamil, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita setiap bulan.
Selain itu, edukasi dan skrining kesehatan calon pengantin dilakukan sebagai langkah pencegahan sejak sebelum kehamilan. Salah satunya melalui pemanfaatan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) dari BKKBN.
“Pak Bupati sangat konsen untuk penanganan balita stunting,” ujarnya.
Endang menegaskan, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu organisasi perangkat daerah (OPD).
“Penanganannya tidak bisa diurus oleh salah satu OPD saja, harus dikeroyok bareng-bareng. OPD-OPD terkait harus bersama-sama. Kita sudah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” katanya.
DPRD Minta Penanganan Stunting Diperkuat
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Lebak Erik Heriana mendukung langkah Pemkab Lebak dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting. Dia menilai target nol stunting harus menjadi komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat.
“Pada prinsipnya kami sepakat dengan upaya yang dilakukan bupati. Percepatan penurunan angka prevalensi stunting harus dipertegas. Bahkan, sampai zero stunting merupakan target kita bersama,” kata Erik kepada media, Sabtu (24/10/2026).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai persoalan stunting berkaitan erat dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, program penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan dan menyentuh akar persoalan di masyarakat.
Menurut Erik, keberhasilan penanganan stunting tidak cukup hanya dilihat dari penurunan jumlah kasus. Edukasi dan pencegahan juga harus diperkuat dengan melibatkan ibu hamil, pengasuh anak, keluarga, dan masyarakat luas.
Dia menyebut pola asuh yang tidak tepat, asupan gizi yang tidak memadai, serta penyakit infeksi sebagai sejumlah faktor yang dapat berkontribusi terhadap stunting.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dimulai sejak usia remaja melalui pemeriksaan kesehatan remaja putri, edukasi gizi, skrining kesehatan sebelum menikah, hingga pendampingan selama kehamilan dan masa pertumbuhan anak.
“Melibatkan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku dalam pencegahan menjadi penting, terutama pada ibu hamil, pengasuh anak, keluarga dan masyarakat umum di Lebak,” ujarnya.
Erik berharap penguatan edukasi, pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, dan koordinasi lintas sektor dapat menekan angka stunting secara berkelanjutan. Dengan demikian, semakin banyak anak di Kabupaten Lebak dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
Dengan masih adanya 4.923 balita yang tercatat mengalami stunting, Pemkab Lebak dinilai perlu memastikan program intervensi berjalan tepat sasaran, terutama di wilayah dengan jumlah kasus besar dan prevalensi tinggi.
Pemetaan wilayah, pengawasan pelaksanaan program, serta evaluasi hasil intervensi juga perlu diperkuat agar penanganan stunting di Kabupaten Lebak berjalan lebih efektif. (Red/Dian)





