Kobarnews.id, JAKARTA – Miris! Sekitar 6.000 bayi di Indonesia meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung bawaan (PJB) karena tak mendapatkan operasi yang dibutuhkan.
Angka tersebut disoroti Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Aher. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan masih lebarnya kesenjangan antara kebutuhan layanan jantung anak dengan kapasitas yang tersedia.
“Data ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang kehilangan kesempatan hidup akibat keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Ini adalah persoalan yang harus menjadi perhatian bersama,” kata Netty dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).
Netty membeberkan, setiap tahun sekitar 4,8 juta bayi lahir di Indonesia. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 48 ribu bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan.
Dari jumlah itu, sekitar 12 ribu bayi membutuhkan operasi segera. Sementara, kemampuan layanan operasi jantung anak di Indonesia baru sekitar 6.000 kasus per tahun.
Artinya, masih ada kesenjangan besar antara kebutuhan dan kapasitas operasi jantung anak.
“Artinya, masih terdapat kesenjangan besar antara kebutuhan layanan dengan kapasitas yang tersedia. Kesenjangan inilah yang harus segera diperkecil melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Menurut Netty, pemerintah tak boleh hanya mengejar target skrining atau deteksi dini. Sebab, percuma kelainan jantung berhasil ditemukan jika pasien harus mengantre lama untuk mendapatkan operasi.
Deteksi dini memang penting. Semakin cepat kelainan diketahui, semakin besar peluang bayi mendapatkan penanganan sebelum kondisinya memburuk.
Namun, skrining harus dibarengi dengan kesiapan layanan rujukan dan tindakan operasi.
“Jangan sampai semakin banyak bayi yang terdeteksi, tetapi justru harus menunggu terlalu lama karena keterbatasan ruang operasi, tenaga medis, atau fasilitas yang tersedia. Skrining harus berjalan seiring dengan penguatan layanan kuratif,” tegasnya.
Karena itu, Netty mendesak pemerintah mempercepat pemerataan layanan jantung anak di berbagai daerah. Penguatan rumah sakit rujukan dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan harus dilakukan.
Begitu pula dengan percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis. Ketersediaan tenaga pendukung seperti perfusionis dan perawat jantung juga tak boleh diabaikan.
“Kita membutuhkan strategi jangka panjang dalam membangun kapasitas layanan jantung anak. Investasi pada sumber daya manusia kesehatan sama pentingnya dengan pembangunan sarana dan prasarana,” katanya.
Netty juga meminta sistem rujukan dibenahi. Bayi yang sudah terdeteksi mengalami kelainan jantung harus bisa segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki kemampuan melakukan tindakan definitif.
“Jangan sampai faktor jarak, keterbatasan fasilitas, atau panjangnya antrean operasi menjadi penyebab hilangnya kesempatan hidup seorang anak. Sistem rujukan harus responsif, cepat, dan merata di seluruh Indonesia,” tandasnya. (Dian)




