Kobarnews.id, LEBAK – SMA Terpadu Al Qudwah Kabupaten Lebak (SMATA) mendorong seluruh guru memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknologi tersebut tidak dibatasi berdasarkan mata pelajaran, termasuk bagi guru Bahasa Arab hingga Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Sekolah menilai keberadaan papan digital di ruang kelas akan kehilangan makna jika hanya menjadi perangkat canggih yang jarang digunakan. Karena itu, SMATA ingin pemanfaatan teknologi benar-benar memberikan dampak terhadap pengalaman belajar siswa.
Guru SMATA, Supadilah, mengatakan Papan Interaktif Digital dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Menurutnya, tidak ada alasan teknologi tersebut hanya dimanfaatkan oleh guru pada mata pelajaran tertentu.
“Semua mata pelajaran bisa memakai Papan Interaktif Digital,” ujar Supadilah kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).
Menurut Supadilah, penggunaan PID membantu guru menyampaikan materi sekaligus membuat pembelajaran lebih menarik. Kehadiran teknologi tersebut juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa.
“Ikut membantu, anak merasa berkesan pembelajarannya,” katanya.
Untuk memastikan penggunaan PID dapat dilakukan secara merata, SMATA menerapkan sistem penjadwalan. Langkah tersebut dilakukan agar penggunaan perangkat tidak berbenturan antar-guru sekaligus memberikan kesempatan kepada seluruh guru untuk memanfaatkannya.
“Untuk pemakaiannya dibuat jadwal agar tidak bentrok,” jelas Supadilah.
Ia menegaskan seluruh guru diharapkan pernah menggunakan Papan Interaktif Digital dalam pembelajaran. Pemanfaatan teknologi itu pun tidak dibatasi berdasarkan bidang studi.
“Semua guru diharapkan pernah memakai, walaupun guru Bahasa Arab atau PJOK sekalipun,” tegasnya.
Bagi siswa, penggunaan Papan Interaktif Digital dinilai membuat proses pembelajaran lebih menyenangkan dan materi lebih mudah dipahami.
Siswa SMATA, Rasyid, mengaku terbantu dengan keberadaan papan digital di kelas.
“Sangat terbantu. Belajar jadi menyenangkan dan pelajarannya juga lebih mudah dipahami,” ujar Rasyid.
Hal serupa disampaikan siswa lainnya, Azka. Ia menilai penyampaian materi melalui papan digital membuat proses belajar lebih menarik.
“Belajarnya jadi lebih menyenangkan dan lebih mudah dipahami,” kata Azka.
Bukan Sekadar Pengadaan Perangkat
Kepala Sekolah SMATA, Resiana, mengatakan transformasi pembelajaran digital di sekolah tidak sekadar berbicara mengenai pengadaan perangkat.
Menurutnya, tantangan utama justru memastikan perangkat yang telah tersedia benar-benar dimanfaatkan guru dan memberikan dampak terhadap proses belajar siswa.
“Ini tidak semata-mata berbicara tentang pengadaan perangkat. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana perangkat tersebut benar-benar digunakan oleh guru dan memberikan dampak terhadap pengalaman belajar siswa,” ujar Resiana.
Ia mencontohkan guru Bahasa Arab dapat memanfaatkan tampilan visual dan materi digital untuk memperkaya pembelajaran bahasa. Sementara guru PJOK dapat menggunakan PID untuk menampilkan materi, ilustrasi gerakan, video pembelajaran, hingga bahan pendukung sebelum siswa melakukan praktik.
Dengan demikian, teknologi ditempatkan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan untuk menggantikan peran guru.
Resiana mengatakan keberadaan perangkat digital juga perlu diikuti perubahan cara mengajar. Sebab, kecanggihan perangkat tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila guru tidak terbiasa menggunakannya.
“Ukuran keberhasilan pemanfaatan Papan Interaktif Digital bukan sekadar berapa unit perangkat yang dimiliki sekolah, tetapi seberapa sering digunakan dan seberapa jauh teknologi tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, interaktif dan berkesan bagi siswa,” pungkas Resiana. (Red/Dian)




