Kobarnews.id, LEBAK – Semangat literasi kembali ditanamkan kepada murid SD Terpadu (SDT) Al-Qudwah. Tahun ini, sekolah menghadirkan Duta Baca Nasional bersama Tyas Tatanka dalam workshop literasi, Kamis (17/9/2026).
Workshop yang diikuti murid kelas 4, 5, dan 6 itu tak hanya mengajak siswa membaca dan menulis. Para murid juga mendapat motivasi untuk berani bermimpi dan menuangkan gagasan menjadi sebuah karya.
Salah satu pesan yang paling membekas disampaikan Gol A Gong. Ia mengajak para murid untuk tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan berhenti mengejar cita-cita.
“Saya boleh kehilangan tangan, tapi tidak boleh kehilangan cita-cita.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para murid bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Justru dari keterbatasan, seseorang dapat membangun kekuatan dan terus menghasilkan karya.
Penguatan budaya literasi juga disampaikan Direktur Pendidikan SDT Al-Qudwah, KH Samson Rahman, MA. Ia dikenal sebagai tokoh literasi, penerjemah buku La Tahzan dan penulis buku La Tansa.
Samson menekankan pentingnya menulis sebagai salah satu cara manusia meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.
“Jika ingin abadi, maka manusia harus menulis atau ditulis,” ujar Samson dalam kegiatan tersebut.
Kepala SDT Al-Qudwah Luky Saputra, M.Pd. mengatakan budaya membaca dan menulis tidak boleh berhenti sebagai kegiatan sesaat.
Menurutnya, konsistensi diperlukan agar literasi tidak sekadar menjadi program sekolah, tetapi menjadi kebiasaan yang melekat dalam keseharian siswa.
Workshop tersebut kemudian ditutup dengan karya para murid. Masing-masing siswa berhasil membuat satu puisi dan satu cerita pendek (cerpen).
Bagi pihak sekolah, karya tersebut bukan sekadar tugas. Tulisan para siswa menjadi bukti keberanian mereka menuangkan imajinasi, pengalaman, dan gagasan ke dalam bentuk tulisan.
Budaya tersebut juga bukan hal baru di SDT Al-Qudwah. Sejak 2017, para siswa telah menghasilkan 10 buku karya siswa dalam bentuk antologi karya sastra.
Konsistensi itu menunjukkan bahwa program literasi di sekolah tersebut tak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun keberanian siswa untuk menciptakan karya.
Salah satu siswa kelas 6, Nakabdi, bahkan mendapat penghargaan setelah menulis cerpen berjudul Ikan Kristal.
Nakabdi mengaku terinspirasi oleh Gol A Gong. Ia pun bercita-cita menjadi penulis agar suatu hari bisa berkeliling dunia melalui karya-karyanya.
“Saya ingin menjadi penulis seperti Paman Gong agar bisa keliling dunia,” kata Nakabdi.
Guru Pembina Literasi SDT Al-Qudwah, Ratu Rinny Eka Febriyani, turut mendampingi pengembangan budaya literasi di sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa menulis tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Sebuah puisi, cerita pendek, atau pengalaman sederhana yang dituangkan dalam kata-kata dapat menjadi awal perjalanan seorang penulis.
Bagi SDT Al-Qudwah, target kegiatan literasi bukan sekadar melahirkan siswa yang mampu membaca dan menulis. Sekolah ingin membangun generasi yang berani berpikir, berimajinasi, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan karya.
Keterbatasan mungkin menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Namun, cita-cita dan karya tidak semestinya ikut dibatasi. (Red/Dian)




