Kobarnews.id, LEBAK – Jalan Sunan Kalijaga di Rangkasbitung, Lebak, mulai dibongkar dan ditata. Ruas jalan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Banten itu ditata melalui pembangunan drainase dan pedestrian.
Pantauan Kobarnews.id, Kamis (17/9/2026), pekerjaan fisik terlihat di sejumlah titik Jalan Sunan Kalijaga. Penataan tersebut menjadi bagian dari rencana pembenahan kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas perdagangan dan kuliner di Rangkasbitung.
Penataan kawasan Sunan Kalijaga sebelumnya juga digagas tidak sekadar melalui pembangunan trotoar dan perbaikan drainase. Kawasan tersebut disebut akan dikembangkan sebagai kawasan kuliner dan ruang publik yang lebih tertata, dengan konsep yang bahkan diarahkan menyerupai kawasan Braga di Bandung.
Pelaku usaha ArenKula Nusantara sekaligus Ketua Leekraf Lebak, Andi Yuliandi, menyambut baik pembenahan tersebut. Namun, dia berharap penataan dilakukan dengan perencanaan matang dan melibatkan pihak yang memiliki keahlian serta pengalaman.
“Penataan kawasan seperti ini idealnya tidak hanya bertumpu pada asumsi. Akan lebih kuat kalau sejak awal melibatkan ahli dan orang-orang yang memang berpengalaman di bidangnya, sehingga konsep yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan kawasan,” ujar Andi.
Menurut Andi, penataan juga perlu memperhitungkan hubungan antara pedagang, pengunjung, pejalan kaki, dan kendaraan.
“Kalau memungkinkan, ruang pedagang dan parkir bisa diatur dengan jelas. Dengan begitu, aktivitas ekonomi tetap hidup, tetapi fungsi jalan dan kenyamanan masyarakat juga terjaga,” katanya.
Dia menilai keberhasilan penataan nantinya tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga konsistensi pengawasan setelah proyek selesai.
“Pembangunan fisik tentu penting, tetapi setelah selesai justru tantangan berikutnya adalah menjaga aturan. Pengawasan dan tindakan yang konsisten perlu disiapkan sejak awal agar kawasan yang sudah tertata tidak kembali ke pola lama,” ujarnya.
Andi juga mendorong agar kuliner khas Lebak mendapat ruang khusus di kawasan tersebut. Menurutnya, pelaku kuliner lokal bukan sekadar pedagang, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas daerah.
“Kalau ingin kawasan ini menjadi etalase Lebak, kuliner khas daerah perlu mendapat ruang dan perhatian. Mereka bukan hanya menjual makanan, tetapi juga membawa identitas dan cerita tentang Lebak,” katanya.
Dia menilai perlu ada dukungan khusus bagi pelaku kuliner khas yang sedang membangun pasar.
“Produk khas daerah terkadang membutuhkan waktu untuk dikenal. Jangan sampai karena mengejar yang cepat laku, kita justru kehilangan kesempatan membangun pasar untuk kuliner lokal,” ujarnya.
Menurut Andi, potensi kawasan Sunan Kalijaga cukup besar karena pasar Rangkasbitung tidak hanya berasal dari masyarakat Lebak. Kedekatan kawasan dengan Stasiun Rangkasbitung serta akses transportasi yang semakin mudah dinilai membuka peluang mendatangkan pengunjung dari luar daerah.
Andi juga berharap karakter Lebak diperkuat melalui desain kawasan. Salah satunya dengan menghadirkan unsur budaya lokal.
“Kalau memang ingin punya karakter, bisa dihadirkan ornamen khas Lebak, termasuk nuansa Baduy di titik-titik tertentu. Jadi orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga merasakan suasana khas Lebak,” katanya.
Menurutnya, jika Jalan Sunan Kalijaga ingin diarahkan menjadi “Braga-nya Lebak”, yang dibangun bukan hanya fisik kawasan, tetapi juga konsep dan tata kelolanya.
Trotoar, kata dia, harus tetap menjadi ruang bagi pejalan kaki. Parkir perlu diatur secara jelas, pedagang mendapat ruang yang layak, sementara kuliner khas Lebak diberi kesempatan berkembang.
“Ukuran keberhasilan penataan bukan ketika proyek selesai dan kawasan terlihat baru. Ukuran sesungguhnya adalah ketika kawasan itu tetap rapi, hidup dan berkarakter setelah proyek selesai,” ujarnya. (Red/Dian)




