KOBARNEWS.ID, JAKARTA — Industri kendaraan listrik di Indonesia menghadapi tantangan baru. Produsen kendaraan listrik dituntut meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 60 persen pada 2027.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, produsen yang ingin memanfaatkan insentif pemerintah sudah mengetahui kewajiban peningkatan TKDN tersebut sejak awal.
Menurut Kukuh, agen pemegang merek (APM) kendaraan listrik perlu menyiapkan fasilitas produksi di dalam negeri. Namun, target tersebut menjadi tantangan, terutama bagi merek yang baru masuk ke pasar Indonesia.
“Kalau mau masuk itu kan, berdasarkan aturan yang ada, memang itu berat. Kalau tahun depan, ya Anda harus ikut yang [TKDN] 60 persen,” ujar Kukuh, dikutip Kamis (1/10/2026).
Kukuh mengatakan, kondisi pasar dan volume penjualan juga dapat memengaruhi rencana investasi produsen. Meski demikian, ketentuan TKDN tetap harus dipenuhi sesuai aturan yang berlaku.
Persaingan kendaraan listrik di Indonesia sendiri semakin ramai. Sejumlah merek baru seperti BAW, Changan, iCar, Leapmotor, Solarky dan Zeekr mulai masuk pasar pada 2026. Di kendaraan komersial, Farizon dan SAG juga ikut meramaikan persaingan.
Pertumbuhan pasar terlihat dari penjualan battery electric vehicle (BEV). Data Gaikindo mencatat penjualan wholesales BEV mencapai 101.171 unit sepanjang Januari-Agustus 2026, naik 97,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 51.191 unit.
Sejumlah produsen juga mulai memperkuat produksi lokal. BYD tengah membangun pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 150.000 unit per tahun dan investasi sekitar Rp16 triliun. Sementara Wuling telah lebih dulu memiliki fasilitas produksi di Cikarang.
Adapun Chery, Geely, BAIC dan Jetour masih memanfaatkan fasilitas perakitan PT Handal Indonesia Motor (HIM).
Toyota Masih Evaluasi
Di tengah tuntutan peningkatan TKDN, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih mengkaji kesiapan fasilitas produksinya untuk mencapai kandungan lokal 60 persen pada 2027.
Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya mengatakan Toyota sedang mengevaluasi sejumlah aspek produksi sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan.
“Kami masih terus melakukan kajian terkait target tersebut, termasuk berdiskusi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain, serta melihat kesiapan dan berbagai aspek yang diperlukan untuk dapat memenuhinya,” kata Nyoman.
Saat ini Toyota telah merakit mobil listrik bZ4X di Karawang, Jawa Barat. Berdasarkan data P3DN Kementerian Perindustrian, mobil tersebut memiliki TKDN 40 persen dan menggunakan baterai lithium-ion berkapasitas 73,1 kWh.
Toyota juga telah menjual bZ4X produksi lokal dengan harga mulai Rp799 juta. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan versi impor utuh atau completely built up (CBU) dari Jepang yang sebelumnya mencapai sekitar Rp1,2 miliar.
Untuk memperbesar kandungan lokal, TMMIN juga memperkuat rantai pasok komponen kendaraan listrik. Salah satunya melalui kerja sama dengan produsen baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL).
Toyota menyiapkan investasi sekitar Rp1,3 triliun untuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik, termasuk rantai pasok baterai dari sektor hulu hingga hilir.
Meski telah bekerja sama dengan CATL, Toyota belum mengungkap secara rinci kapan baterai produksi lokal akan digunakan pada kendaraan yang dipasarkan di Indonesia. Perusahaan menyatakan detail implementasinya akan disampaikan pada waktu yang tepat. (Red)
Ditulis dari berbagai sumber





