Kobarnews.id, SERANG – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Serang bersama Satgaswil Banten Densus 88 Antiteror Polri menggelar sosialisasi pencegahan radikalisme kepada sejumlah pelajar. Edukasi tersebut membahas potensi penyebaran paham radikalisme melalui game online dan media sosial.
Kegiatan yang digelar di Aula SMPN 1 Kota Serang, Senin (28/9/2026), itu bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar mengenai pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IPET).
Kesbangpol dan Densus 88 mengingatkan bahwa ruang virtual yang digunakan anak muda sehari-hari dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi radikalisme. Hal itu termasuk melalui komunitas game, fitur komunikasi dalam permainan, hingga media sosial.
Tim Cegah Satgaswil Banten Densus 88 Antiteror Polri, Briptu Darwis Dariansyah, mengatakan pola rekrutmen kelompok radikal kini tidak hanya dilakukan secara langsung. Interaksi di ruang virtual juga dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dengan calon sasaran.
“Radikalisme lewat game online dapat berkembang melalui interaksi di ruang virtual, termasuk fitur komunikasi, permainan, dan komunitas pemain,” kata Darwis dalam kegiatan tersebut.
Menurut Darwis, kelompok tertentu dapat memanfaatkan algoritma media sosial dan komunitas game seperti Roblox dan Free Fire. Interaksi awal dapat terjadi melalui fitur voice chat ketika bermain bersama dan kemudian berlanjut ke komunikasi di luar permainan.
Darwis juga menyebut masa pencarian identitas, kurangnya komunikasi dalam keluarga, hingga pengalaman menjadi korban perundungan dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap ajakan atau narasi tertentu.
Karena itu, Satgaswil Banten Densus 88 mengingatkan orang tua agar ikut mengawasi penggunaan gawai serta aktivitas anak di ruang digital, termasuk ketika bermain game online.
Sementara itu, Kepala Bidang Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Kota Serang, Chandra Apriyadi Sulaeman, mengatakan sosialisasi tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan yang mengacu pada Perpres Nomor 8 Tahun 2026.
Chandra mengatakan upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah. Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi di kalangan remaja, seperti tawuran dan perundungan, perlu menjadi perhatian dalam upaya mencegah munculnya perilaku kekerasan.
“Kami berharap tidak ada lagi tawuran di jalanan, bullying di sekolah, serta perselisihan antarteman. Ini merupakan langkah deteksi dini. Intinya, pelajar harus lebih cerdas bermedia sosial dan lebih selektif dalam memilih teman,” ujar Chandra. (Red/Danu)



