Kobarnews.id, LEBAK – Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengalami lonjakan pasien. Dalam sehari, jumlah pasien yang datang mencapai 113 orang, sementara kapasitas ideal IGD hanya 29 tempat tidur.
Lonjakan pasien tersebut terjadi pada Jumat dan Sabtu lalu. Para pasien datang dengan berbagai keluhan, mulai dari demam, gangguan pernapasan hingga sakit perut.
Plt Direktur RSUD Adjidarmo, dr. Firman Rahmatullah, membenarkan tingginya jumlah pasien yang datang ke IGD.
“Fasilitas IGD kita hanya bisa menampung 29 tempat tidur, namun hari Jumat dan Sabtu kemarin sampai 113 orang,” ujar Firman kepada wartawan, Selasa (29/9/2026).
Kepadatan pasien di IGD RSUD Adjidarmo bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, jumlah pasien yang datang dalam sehari juga pernah mencapai 93 orang.
Firman mengatakan keluhan gangguan pernapasan cukup banyak ditemukan, termasuk pada pasien anak. Namun, tidak semua kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masuk dalam kategori kegawatdaruratan yang harus ditangani di IGD.
Menurutnya, penanganan di IGD diperlukan ketika kondisi pasien menunjukkan gejala berat. Di antaranya demam tinggi yang menimbulkan kejang, sesak napas, bronkitis, bronkopneumonia, hingga pneumonia.
Firman memahami kekhawatiran orang tua ketika anak mengalami demam. Namun, kondisi tersebut membuat sebagian orang tua langsung membawa anak ke rumah sakit meski masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
“Penguatan FKTP menjadi salah satu langkah untuk mengurangi konsentrasi pasien di rumah sakit. Dengan begitu, IGD dapat lebih fokus memberikan pelayanan kepada pasien yang benar-benar membutuhkan penanganan darurat,” jelasnya.
Karena itu, RSUD Adjidarmo mendorong puskesmas dan klinik di wilayah Rangkasbitung untuk memperkuat pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat penanganan pasien sesuai tingkat kebutuhannya, sehingga seluruh pasien tidak terkonsentrasi di rumah sakit dan kapasitas IGD dapat digunakan secara optimal bagi kasus-kasus kegawatdaruratan. (Red/Hikmat)



